Ormawa Bukan Event Organizer

Suatu hari saya berbincang dengan teman lain fakultas. “Menurutmu, bagaimana kinerja organisasi kemahasiswaan (ormawa) di kampus kita?” tanya saya.

Dia bilang, “Waduh, buruk, man! Mereka nggak pernah bikin acara yang super heboh. Kalaupun ada, sering kacau. Ah, bisanya cuma rapat doang.” Sontak, sambil senyum saya berkata dalam hati, “Oya??”

Begitulah, acuan  utama dalam menilai keberhasilan ormawa pastilah berdasarkan sukses tidaknya event yang telah digelar. Bahkan pula, seberapa besar acara tersebut menyedot massa dan menggemparkan khalayak.

Pandangan publik kampus Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo memang sedang terstigma pada kedudukan ormawa sebagai produser acara. Jika mereka tidak melihat adanya event yang dibuat, bisa dipastikan ormawa yang bersangkutan divonis vakum atau kolaps. Padahal menurut saya tidak sepenuhnya demikian.

Yang menjadi permasalahan adalah disorientasi akan tujuan berorganisasi itu sendiri. Untuk apa sih kita harus melakukan hal itu? Tapi pertanyaan ini sebenarnya tak perlu diajukan karena apa yang tertuang dalam konstitusi kita sebenarnya sudah jelas. Yakni dalam Pasal 28 UUD 1945 disebutkan adanya kebebasan berserikat (freedom of organization), kebebasan berkumpul (freedom of assembly) dan kebebasan berekspresi (freedom of expression) bagi warga negara. Tiga hal dasar tersebut merupakan pilar bagi pertumbuhan dan penguatan masyarakat sipil (civil society) dalam suatu tatanan masyarakat yang demokratis.

Ya, perwujudan kehidupan yang demokratis merupakan muara akhir dari semua ini. Tanpa adanya hak warga masyarakat untuk bebas mendirikan organisasi, untuk berkumpul dalam suatu pertemuan membicarakan kepentingan bersama atau isu kebijakan publik yang berpengaruh pada kepentingan masyarakat, dan mengekspresikan proses dan hasil pertemuan itu ke depan publik; maka sulit rasanya membayangkan adanya peran serta warga masyarakat dalam kehidupan politik. Dengan kata lain, atmosfer demokrasi baru bisa mimpi.

Abdul Hakim Garuda Nusantara, SH, LLM. (1999; 175) menyatakan bahwa organisasi merupakan tempat menempa diri bagi kalangan mahasiswa sekaligus regenerasi kepemimpinan. Agar mereka sadar akan tugas dan fungsinya sebagai generasi penerus, yang di masa depan diharapkan dapat mengartikulasi kepentingan rakyat dengan lebih baik dari para tokoh hari ini. Gerakan mahasiswa dalam wadah organisasi itu juga diarahkan untuk memenuhi kepentingan transformasi nilai-nilai (values) atau system nilai (values system) yang sifatnya universal di masyarakat. Seperti soal keadilan sosial, kebebasan, kemanusiaan, demokrasi dan solidaritas kepada rakyat yang tertindas. Mahasiswa harus lantang menyuarakan hal ini.

Itulah agenda besar para aktivis mahasiswa, jadi tidak sekedar menggelar acara atau hura-hura belaka. Hal ini sama sekali bukan cerminan seorang organisatoris yang baik. Tapi realita di lapangan berbicara lain. Tidak sedikit pengurus ormawa yang memposisikan diri sebagai event organizer. Mereka begitu getol mengkonsep dan menyelenggarakan acara parade band, festival cheerleader, kontes fashion dan lain-lain yang tentunya wah dan sarat nuansa hedonis. Harapan mereka hanya satu yakni dapat mengeruk laba yang sebesar-besarnya. Lumayan bukan, kalau sekedar urusan membeli pulsa diperoleh dengan cara beraktivitas di organisasi?! Segala pertimbangan dan pemikiran mereka hanya diwarnai syahwat komersiil. Tanpa sadar, mereka terinfeksi gaya hidup kaum materialis yang menomorsatukan kesenangan. Padahal budaya semacam itu yang seharusnya menjadi musuh. Benar-benar sebuah ironi.

Dalam ketenggelamannya, para aktivis ormawa lantas miskin berwacana. Mereka terkesan jauh dari forum-forum diskusi yang membincangkan masalah rakyat dan bergegas mencari solusinya. Daya kritis terhadap isu-isu lingkungan melemah, bahkan mati sama sekali. Akhirnya, jangan coba ditanya soal bentuk gerakan mereka dalam mengkritisi kebijakan negara yang tidak berpihak kepada rakyat! Anda pasti sudah tau jawabnya. Ya, no way!

Agenda ormawa hanya dipenuhi kegiatan ngalor-ngidul untuk urusan mencari sponsorship dan sejenisnya. Selesai satu acara maka lantas beralih ke acara yang lain. Begitu seterusnya, hingga berbuah rotasi tanpa henti. Upaya kaderisasi pun diarahkan pada pengulangan rutinitas program yang sudah-sudah. Benar-benar profil event organizer.

Saya hanya berpesan, “Membuat acara silakan saja, tapi jangan hilangkan peran agung sebagai mahasiswa. Yang harus intelek, idealis dan reformis.” Kita mampu kok… [*]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.