Semua tentu sepakat dengan pernyataan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber-sumber alamnya. Kekayaan yang berlimpah ruah baik di daratan maupun di lautan, pertambangan, kehutanan, hasil laut dan sebagainya adalah jamrud di tengah khatulistiwa. Namun sangat ironis kondisi bangsa kita saat ini, masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan di beberapa daerah penderita busung lapar dan pengkonsumsi nasi aking masih berjubel. Soal pendidikan juga begitu. Masih banyak manusia Indonesia yang tidak dapat menempuh pendidikan akibat biaya sekolah yang sangat mahal. Ada apa dengan bangsa ini? Kenapa bangsa kita bisa begini? Tentu realita itu bukan suatu kebetulan saja. Pertanyaan ini harus kita jawab dengan seksama, tentunya dengan analisa yang komprehensif.
Satu hal yang pasti, negeri ini memang sudah merdeka dari penjajahan fisik, tapi intervensi asing terhadap kepentingan-kepentingan sumber kekayaan alam negeri ini masih tertancap begitu kuat. Liberalisasi ekonomi merupakan pintu gerbang bagi kekuatan asing untuk melanggengkan syahwat ekonomi mereka, tentunya dengan kekuatan modal. Akibat pengerukan yang dilakukan oleh modal asing (baca: imperialis) selama empat dasawarsa kita tinggal menunggu cadangan mineral, logam, minyak dan gas Indonesia habis terkuras. Perlu dicatat bahwa sampai saat ini Indonesia adalah penghasil 25% timah, 2,2% batubara, 7,2% emas dan 5,7% nikel dunia. Berlawanan dengan semakin menipisnya cadangan mineral tambang kita, sampai saat ini sumbangan industri pertambangan pada PDB tidak pernah menembus angka 3%, atau tidak pernah lebih dari 50 trilyun rupiah. Bandingkan dengan perhitungan kasar produksi tembaga dan emas pada tahun 2004 PT Freeport di lubang Grasberg yang setara dengan 1,5 milyar US$ (15 trilyun rupiah). Lemahnya kedaulatan negara atas kekayaan alamnya diwakili data bahwa saham PT Freeport yang dimiliki Pemerintah Indonesia hanya sebesar 9,4% dari keseluruhan saham. Hal itu ditambah kelemahan-kelemahan yang ada pada Kontrak Karya pertambangan kita.
Tapi ‘tenang’ saja, kondisi tersebut masih belum seberapa. Jika kita berbicara soal sharing profit dalam megaproyek Blok Cepu, Exxon Mobile, Texaco, Petronas, Rio Tinto, Newcrest ataupun Newmont; buku kuduk tentu akan begidik. Aset-aset vital nasional seperti Indosat dan Telkom yang kini juga dikuasai asing pastinya akan menambah daftar panjang ketidakberdayaan kita di tanah sendiri. Kita sedang kerampokan!
Dalam lingkup lebih kecil, hari-hari kita sepertinya juga lebih berkawan dan terkesan pro dengan kalangan imperialis tersebut. Dengan kata lain secara tidak sadar kita ‘bersepakat’ untuk melemahkan bangsa kita sendiri. Coba kita ingat, dalam hal berbelanja kebutuhan harian kita lebih merasa enjoy dan suka berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan semacam sekelas mall, supermall, hypermarket atau apalah namanya. Di kawasan Kota/ Kabupaten Probolinggo sendiri, sentra belanja berbentuk franchise semacam Indomaret dan Alfamart mulai menjamur serta merambah daerah pinggiran. Warga lebih memilih mengerubungi tempat-tempat itu dibandingkan pasar-pasar tradisional yang sebenarnya tidak kalah lengkap. Toko-toko kelontong di kampung pun mulai kehilangan peminat. Pengusaha lokal berskala kecil menengah terjepit, terngengah-engah dan akhirnya berimbas pada pendapatan masyarakat setempat yang menurun drastis.
Namun patut diingat bahwa saya bukannya secara ekstrim melarang menggunakan produk luar negeri, karena kondisi kita di banyak sektor sebenarnya belum sepenuhnya siap. Saya hanya ingin mengajak dan merefleksikan makna Hari Kebangkitan Nasional yang sering kita diperingati. Sudah saatnya kita tidak hanya mengisi peringatan berupa ritual upacara dan sejenisnya saja. Pemakaian seragam batik di kalangan pegawai negeri sipil, pun jangan berlalu tanpa makna. Hal yang sering kita sebut dengan pekan swadeshi ini sebenarnya diadopsi dari falsafah hidup Mahatma Gandhi (India), selain hartal dan satyagraha. Swadeshi model Gandhi adalah gerakan rakyat untuk menggunakan produk dalam negeri dan memboikot produk buatan Inggris. Tujuannya hanya satu yakni terwujudnya kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka dan bebas untuk hidup serta berkreasi sesuai dengan kehendak hati. Tidak terbelenggu lagi soal dominasi pihak asing yang mengintervensi dan menghimpit ruang gerak/ usaha warga domestik, selaku tuan rumah.
Begitulah, pada peringatan kali ini kita harus menumbuhkembangkan semangat nasionalisme yang oleh banyak kalangan dianggap mulai memudar. Bukti kecil, teks Pancasila saja sudah banyak yang tidak hafal. Jika pada awal kebangkitan nasional yang sesungguhnya dirintis oleh para aktifis di organisasi Syarikat Islam (SI) pada perjuangan merebut kemerdekaan, maka di era sekarang kita harus membangkitkan diri untuk membuat bangsa ini lebih bermartabat dan disegani oleh warga dunia. Jangan hanya bisa dikenal karena peringkat korupsinya selalu teratas di dunia lo! Kita harus bangkit dari segala bentuk keterpurukan yang hanya mengajak kita bermental ‘negara jajahan’.
Sudah, lupakan soal imperialis Belanda dulu. Kita bengsa merdeka dan sesungguhnya kita mampu. Baru-baru ini saja, putra negeri ini berhasil memperoleh medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional tingkat SMU yang diselenggarakan di Singapura. Untuk peringkat kontingen, kita hanya satu tingkat di bawah China. Sebelumnya, ada pula mahasiswa ITB yang karya ilmiah tentang teknologi dinobatkan sebagai karya ilmiah terbaik dalam The 9th LSI Design Conterst in Okinawa di Jepang. Sekali lagi, hanya satu kata, kita harus bangkit di Bulan May ini (maybe YES, mybe NO??) [*]