Seharusnya Syarikat Islam, Bukan Budi Utomo!

Logo Sarekat Islam

Logo Sarekat Islam

Ulasan di bawah ini sesungguhnya sudah banyak diposting di blog maupun situs lainnya. Hanya saja saya ingin merekamnya di sini dan mengingatkan bahwa ada kecelakaan sejarah yang harus disadari, karena dalam bulan ini ada seremoni rutin bernama “Hari Kebangkitan Nasional”. Terlebih, hingga hari ini otoritas republik ini masih belum mau mengkaji ulang tentang titik tolak atau tonggak kebangkitan bangsa yang seharusnya dimulai dari sejak berdirinya organisasi Syarikat Islam (SI). Bahwa ada ungkapan “Sejarah itu milik penguasa”, dalam kasus ini tentu ada benarnya. Perlu juga dicatat bahwa dimuatnya tulisan ini bukanlah didorong oleh fanatisme terhadap Islam, namun semata-mata menampilkan fakta yang selama ini dibantah. Berikut ulasannya:

Mana yang lebih dulu?
Syarikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam (SI) berdiri tahun 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto, ini lebih dulu 3 tahun sebelum adanya Budi Utomo yang baru berdiri 20 Mei 1908, dimana perkumpulan BU ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Apa tujuan berdirinya?
Syarikat Islam bercita-citakan kemerdekaan Islam Raya dan Indonesia Raya. Budi Utomo? memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura (Budi Utomo hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura).

Sikap terhadap penjajah Belanda?
Syarikat Islam bersikap non-kooperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda, sedangkan Budi Utomo bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda.

Mana yang memperjuangkan kemerdekaan?
Syarikat Islam berjuang melawan penjajahan demi memperjuangkan kemerdekaan Islam dan Indonesia sehingga banyak anggotanya yang berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul. Sebaliknya, Budi Utomo sebagai pegawai (baca:antek2) yang digaji oleh sang Tuan (baca:penjajah), tentu saja ingin mempertahankan keadaan, sehingga tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, malah mendukung tetapnya penjajahan. Maka jangan heran, anggota Budi Utomo tidak ada yang pernah dipenjara.

Sifat Organisasinya?
Syarikat Islam bersifat kerakyatan (tidak hanya kaum ningrat tapi juga rakyat jelata), terbuka bagi semua rakyat Indonesia (tidak hanya Jawa dan Madura) yang mayoritas Islam, membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya. Sedangkan Budi Utomo seperti kita ketahui organisasi sempit yang bersifat feodal dan keningratan karena anggotanya hanya kalangan priyayi, bahkan lebih sempit lagi hanya untuk kalangan Jawa dan Madura saja (Saking chauvinisnya, Betawi sekalipun tidak boleh), selain itu Budi Utomo juga sikapnya anti terhadap islam.

Bahasanya?
Syarikat Islam menggunakan Bahasa Indonesia, anggaran dasarnya berbahasa Indonesia. Sedangkan Budi Utomo menggunakan Bahasa Belanda dalam rapat-raapat dan anggaran dasarnya.

Di banyak publikasi lainnya, KH Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam,  bahkan menyebutkan, “Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka“.

Bukan itu saja, di belakang Budi Utomo pun terdapat fakta yang mencengangkan, banyak tokohnya yang ternyata merupakan anggota aktif Freemasonry. Dalam buku Dr. T.H. Stevens, seorang sejarawan Belanda, berjudul “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962″ disebutkan beberapa tokohnya —yang dilengkapi foto-foto ekslusif sebagai buktinya— antara lain: Sultan Hamengkubuwono VIII, RAS. Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Paku Alam VIII, RMAA. Tjokroadikoesoemo, DR Radjiman Wedyodiningrat, dan banyak pengurus lainnya. Bahkan ketua pertamanya yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen). Dia aktif di Loge Mataram sejak 1895.

Akhirnya, kalaulah demikian, memaksakan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional sebenarnya sudah bukan kontroversi melainkan pemaksaan sekaligus kecelakaan sejarah. Dan lebih jauh lagi, penghinaan terhadap perjuangan kemerdekaan umat islam di Indonesia. [*]

Rujukan: tulisan Rizki Ridyasmara & http://www.faisalman.wordpress.com

3 Komentar

    • Hermanto berkata,

      25/05/2010 pada 21:38

      Sesuai analisis di atas, jika bertolak dari momentum yang shahih maka peringatan Harkitnas seyogyanya tanggal 16 Oktober saja. Sepakat dengan tulisan Anda juga.

  1. RIDWAN berkata,

    09/01/2011 pada 02:24

    saya setuju bahwa kebangkitan islam itu seharusnya dari SDI/SI bukan budi utomo.
    saya mrespon bahwa komentar anda di lanjutkan.
    alangkah lebih baiknya logonya di ganti dari logo BISMAILLAH menjadi logo SI.
    terima kasih


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.