Sungguh, Lucunya (Negeri) Kita Ini!

Ada ilustrasi menarik yang dituturkan Cak Nun dalam ”Demokrasi, La Raiba Fih”-nya. Menggelikan. Beliau menyuruh kita membayangkan, puluhan juta keluarga hari ini bisa hidup tanpa rasionalitas ekonomi. Gaji tak cukup untuk makan keluarga tapi kredit motor, tak ada kerjaan tapi merokok sambil main catur, kalau ditanya bagaimana makan minum keluargamu, mereka menjawab: “Bismillah, Cak”. Ahli statistik di belahan bumi sebelah manapun tidak pernah mencatat makanan utama bangsa Indonesia adalah bismillah. Dan sesungguhnya apa yang terkandung di balik “bismillah” itu adalah kelonggaran-kelonggaran sistem budaya korupsi di berbagai celah kehidupan yang memungkinkan mereka tetap bisa survive.

Hal itu sepatutnya tak perlu terjadi. Mengingat bumi Indonesia ini kaya raya. Sejak buyut kita belum lahirpun, dunia mengakuinya. Terbukti, 350-an tahun kita dijajah asing. Dan tampaknya masih berlangsung hingga kini. Lihat saja kontrak karya Freeport yang hanya menyisakan saham pemerintah tak lebih dari 5% saja. Belum lagi Caltex, Newmount, Newcrest, Petronas dan banyak lagi. Namun ironis, masyarakat masih hidup miskin. Ditambah pula neoliberalisasi ekonomi melalui ACFTA (ASEAN – China Free Trade Area) yang tak terbantahkan.

Lantas, apa yang kita perbuat? Boleh saja kita aktif mengkampanyekan revolusi dan nasionalisme untuk merebut kembali kejayaan negeri. Tapi perlu dipikirkan juga bahwa orang tak mungkin dipaksa mengerek bendera dengan perut lapar. Sebaliknya, sungguh nista menjual bendera bangsanya demi urusan perut belaka.

Nasionalisme adalah senyawa dalam membangun sebuah bangsa, yang harus hinggap di setiap dada mahasiswa. Dan tentu saja wujud senyawa ini tidak berupa aksi anarkis saat demonstrasi. Terlebih rutinitas kuliah-pulang kuliah-pulang (”kupu-kupu”) saat bertandang ke kampus. Bukan pula aktifitas pamer dandanan dan berburu gebetan, tapi miskin prestasi (baca: IPK pas-pasan). Masuk kuliah pun jarang, katanya sih sibuk urusan organisasi. Katanya, mau merubah bangsa?! Mimpi. Lucu!

Kita juga sering menyatakan bahwa demokrasi itu harga mati. Al-Qur’an boleh bilang bahwa tak ada keraguan padanya. Tapi prakteknya, kita lebih semangat menyoal skandal Bank Century dibandingkan shirah Nabi. Sampai-sampai melewatkan kisah sosok-sosok muda seperti: Ali bin Abi Tholib (8th), Zubair bin Awwam (8 th), Arqam bin Abil Arqam (11 th), Ja’far bin Abi Tholib (8 th), Shohih Ar Rumy (19 th), Zaid bin Haritsah (20 th), Sa’ad bin Abi Waqash (17 th), Utsman bin Affan (20 th), Umar bin Khotobb (27 th), Abu Ubaidah bin Jarroh (27 th), Abdurrahman bin Auf (30 th), Abu Bakar Ash Shidiq (37 th). Padahal banyak ibroh dan inspirasi dari mereka.

Saya jadi ingat pesan asy-Syahid DR Abdullah Azzam, “Wahai pemuda Islam….
Engkau tumbuh dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jagalah diri kalian! Jangan terpengaruh oleh senandung lagu milik orang yang dibuai kenikmatan hidup. Jangan terlena oleh musiknya orang yang bermewah-mewahan dan kasurnya orang yang kekenyangan.”

Dan pula, benar sekali yang dikatakan Umar RA: “Ummat Islam adalah suatu kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Tetapi bila mencari kemuliaan diluar dari garis yang telah ditentukan-Nya, maka niscaya Dia akan menghinakanya.” (HR Al Hakim)

Wahai mahasiswa muslim! Sesungguhnya ummat ini benar-benar mengandalkan kalian. Oleh karenanya mohonlah kepada Allah akan pertolongannya. Insya Allah kalian akan unggul. Berjalanlah di atas jalur yang pernah dilalui oleh para Nabi. Singsingkan lengan baju kalian dan bangunlah kembali kejayaan Islam dan negeri ini. Raihlah kejayaan yang pernah dicapai oleh nenek moyang kalian. Ingatlah didepan kalian hanya ada dua alternatif: menang atau mati syahid! Untuk Indonesia lebih baik. [*]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.