Prolog
Bukan lagi menjadi hal yang mencengangkan saat kita menyaksikan bahwa kaum ‘bersarung’ dikenal sebagai kalangan terbelakang. Bukan soal sarungnya, melainkan kebanyakan penghuni pondok pesantren pedalaman tersebut acapkali disandingkan dengan predikat bodoh dan gagap teknologi. Padahal kegiatan utama mereka di sana adalah mencari ilmu, mendalami ilmu agama. Namun herannya mereka malah dicap sebagai orang ‘tak berilmu’. Lho?!
Ya, itulah realitanya. Manusia dianggap berilmu manakala ia fasih dalam penelitian ilmiah, berperan dalam penemuan teknologi mutakhir, aktif dalam pengembangan sains dan seterusnya. Entah dalam bidang fisika, biologi, kedokteran, maupun informatika. Sedangkan kaum ‘bersarung’ itu? Yang dalam keseharian melahap ‘ilmu’ agama, sama sekali tak masuk hitungan. Ketenggelaman mereka dalam ranah ‘ketuhanan’ dianggap sebagai belenggu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahkan secara radikal, tipikal orang yang dikenal sebagai ‘insan beriman dan bertaqwa’ ini disebut-sebut sebagai pertapa.
Dan sebaliknya, para penggila sains dan teknologi yang kadangkala memang mendobrak doktrin agama, dianggap sebagai kalangan yang sekuler. Sejarah mencatat, bagaimana kisah Copernicus yang gara-gara menyatakan bahwa bumi dan planet-planet lain berputar mengelilingi Matahari (Matahari Sentris), dikucilkan oleh kalangan gereja. Dan di tahun 1609, saat Galileo mendukung teori Copernicus sekaligus mematahkan teori “Bumi Sentris” yang dianut saat itu; betapa ia ditentang habis-habisan oleh gereja. Pertentangan itu memuncak pada tahun 1616 saat dia diperintahkan Paus untuk menahan diri dari menyebarkan hipotesa Copernicus.
Begitulah, antara esensi ajaran agama dengan sains dan teknologi seakan-akan ‘nggak nyambung’. Pihak agamawan rasa-rasanya panas kupingnya bila melihat adanya perkembangan bidang yang satu itu. Namun apakah tindakan ini dibenarkan? Dan benarkah keduanya memang selalu tak sejalan?
Apa Yang Terjadi?
Dari hasil analisa penulis, ternyata selama ini berkembang dalam masyarakat kita sebuah pandangan stereotip, dikotomisasi antara dunia dan akhirat. Dikotomisasi antara unsur-unsur kebendaan dan unsur agama. Materialisme versus nilai-nilai Ilahiyah semata.
Sebut saja aristrokasi Cina Kuno yang pada mulanya condong ke keduniawian, mengutamakan kenikmatan dan keindahan karunia alam. Kemudian datang Lao Tse yang menjadi pelopor kemajuan kehidupan spiritual, sehingga banyak melahirkan pendeta, kaum sufi dan gnostik. Sebut juga di India, dunianya para remaja dan cerita 1001 malam Arabia, beralih ke kehidupan asketik dengan ajaran Weda dan Budha. Karena itulah mengapa negara tersebut terkenal dengan para yogi yang tidur di atas paku dan hidup selama 40 hari hanya dengan sebiji kurma. Belum lagi di Eropa, Roma telah begitu jauh dari pemuasan keduniawian. Kemudian datang Kristus, yang kembali mengubah atmosfir Roma ke arah vertikal kembali. Demikianlah fenomena tersebut berubah silih berganti seperti nilai mata uang yang terus-menerus mengalami fluktuasi.
Jadi mereka yang memilih keberhasilan di alam ‘vertikal’ cenderung berpikir bahwa kesuksesan dunia justru adalah sesuatu yang bisa dinisbikan atau sesuatu yang demikian mudahnya ‘dimarginalkan’. Hasilnya, mereka unggul dalam kekhusu’an dzikir namun menjadi kalah dalam percaturan ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial, politik dan perdagangan di alam ‘horizontal’. Mereka begitu tertinggal dalam kehidupan dan peradaban modern.
Begitupun sebaliknya yang berpijak hanya pada alam kebendaan, kekuatan berpikirnya tak pernah diimbangi oleh kekuatan dzikir. Realitas kebendaan yang masih membelenggu hati, tidak memudahkan baginya untuk berpijak pada alam fitrahnya (zero mind), yang sebenarnya selalu menginginkan adanya akhlakul karimah dalam upaya pengembangan sains dan teknologi. Sehingga jangan salah apabila karena kemajuan teknologi militernya, Amerika Serikat (yang berdalih memberangus terorisme internasional) tega menggempur Afghanistan dan Irak dengan mengabaikan hak-hak hidup warga sipil. Wanita dan anak-anak mendominasi puluhan ribu korban tewas dalam perang ‘demi minyak’ tersebut. Bisa dikata, hawa nafsu telah membungkus semangat pengembangan sains dan teknologi mereka!
Realitas Ajaran Agama
Kembali membincangkan perihal ‘kaum bersarung’. Sudah selayaknya kita adakan reorientasi pemikiran, apakah penganut agama model pertapa seperti itu merupakan prototype makhluk yang sebenar-benar taqwa? Apakah memang benar doktrin agama memasung hak-hak manusia untuk mengembangkan sains dan teknologi? Mengkerdilkan spirit untuk optimalisasi peran sebagai khalifah Allah di muka bumi? Dan akhirnya pengembangan sains dan teknologi dianggap ‘nggak perlu’ dibarengi penguatan nilai-nilai agama.
Menurut saya, bila jawabnya memang benar, itu adalah hal yang salah besar dan sebuah mind-set yang harus lekas dihapus dari memori otak serta hati manusia. Sebagai seorang muslim, sepatutnya kita buka kembali kitab suci kita. Al-Qur’an yang notabene merupakan panduan mutlak bagi orang yang ingin menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, secara nyata justru mengajak manusia untuk memperhatikan alam hewan dan nabati. Al-Qur’an juga merangsang manusia untuk melakukan penelitian terhadap segala kejadian yang menyangkut perjalanan masa dan perputaran matahari, peredaran planet dan bulan. Tegasnya seluruh kosmos kita ini dengan segala isinya. Firman Allah: “Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi’” (TQS. Yunus: 101)
Malah di bagian lain, al-Qur’an menantang manusia untuk menaklukkan luar angkasa (outer space). Manusia ditantang untuk melakukan ekpansi jagad raya, keluar dari planet bumi untuk menguak misteri di langit yang terbentang luas. Lihat saja: “Hai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus keluar (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah; kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (TQS. Ar-Rahman: 33)
Lagi-lagi bukti kuat menepis anggapan bahwa agama mengekang kebebasan diri dalam upaya pengembangan sains dan teknologi. Lantas mengapa orang-orang yang pernah pulang pergi ke bulan melalui misi Apollo-nya justru mereka yang bukan pengikut al-Qur’an, melainkan astronout-astronout Amerika? Ke mana gerangan kalangan yang menamakan diri sebagai ‘maniak’ (baca: pengikut) al-Qur’an?
Ya, di sinilah masalahnya. Kalangan muslim belum sepenuhnya mampu membaca alam ini. Padahal para generasi terdahulu, semacam Ibnu Sina, Aljabar, Ibnu Batutah dan kawan-kawan telah memberi teladan yang amat memukau. Mereka adalah muslim yang taat menjalankan ibadah mahdhah (sholat, puasa, zakat, …) dan pula getol mengamati alam sekitarnya, sesuai tuntunan al-Qur’an. Sukses menjadi cendekiawan muslim yang disegani dunia, terbukti karya-karya hasil penelitiannya dijadikan rujukan puluhan universitas terkemuka Eropa selama lebih dari 10 abad.
Begitulah, sebenarnya ajaran agamanya tak ada masalah. Tinggal kemauan penganutnya saja untuk mengaplikasikan ajaran tersebut secara komprehensif. Sebagaimana seruan Allah yang pertama kali disampaikan kepada Rasulullah, yaitu: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (TQS. al-‘Alaq: 1). Sudahkah kita menjalankan perintah perdana dan utama ini dengan baik?
Ingat, membaca adalah jendela pengetahuan. Segala upaya pengembangan sains dan teknologi bermula dari sini. Bacalah contoh ini baik-baik: Misalnya sebuah pesawat ruang angkasa bernama ‘X’ meluncur terbang meninggalkan bumi dengan kecepatan 100.000 km/ detik. Kecepatan diukur dari bumi. Pada saat bersamaan, sebuah pesawat antariksa ‘Y’ lain, juga meluncur ke arah yang sama dengan kecepatan lebih tinggi yaitu 180.000 km/ detik. Pengukuran kecepatan juga dilakukan dari bumi. Berapa beda jaraknya? 80.000 km? … bukan! Ternyata setelah diamati, jawabannya adalah 100.000 km! Bukan 80.000 km seperti jawaban anda. Teori Einstein memperhitungkan, bahwa itulah kenyataannya.
Tak ada kekeliruan dari pengamatan ini. Menurut Albert Einstein, hasil kesimpulan tersebut adalah semata-mata akibat dari sifat dasar alamiah ruang dan waktu yang sudah diperhitungkan lewat rumus awal komposisi kecepatannya.
Salah satu kesimpulan “Teori Relativitas Einstein” adalah benda dan energi berada dalam arti yang berimbangan, dan hubungan antara keduanya dirumuskan sebagai: E = M.c2
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan (berimbang) supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (TQS. adz-Dzariyat: 49)
E, menunjukkan energi, dan M, menunjukkan massa atau benda, sedangkan c, merupakan kecepatan cahaya. Karena c = 180.000 km/ detik, dengan sendirinya c2 (c x c) = (180.000 x 180.000) akan menghasilkan anergi yang tak terperikan. Dengan demikian berarti, meskipun pengubahan sebagian kecil dari massa atom di dalam molekul akan mengeluarkan jumlah energi yang luar biasa besarnya. Teori dibuktikan ketika bom atom meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Nah, dalam hal ini Einstein telah ‘membaca, hukum keseimbangan alam antara massa dan energi yang dirumuskan sebagai E = M.c2. Di sini kadang orang tersesat dengan mengatakan bahwa Albert Einstein adalah yang ‘menemukan’ teori energi atom. Padahal sesungguhnya Einstein memang telah mampu membaca, menela’ah, mendalami, meneliti, dan menyampaikan, atau melakukan ‘Iqra’’, terhadap ketetapan-ketetapan alam ciptaan Allah Yang Maha Ilmu. Namun tetaplah Dia Yang Maha Kuat yang memiliki kekuatan itu, bukan Einstein.
“… Dan bukanlah kau yang melempar ketika kau yang melempar, tetapi Allah yang melempar, untuk menguji orang beriman dengan cobaan yang baik daripada-Nya…” (TQS. al-Anfaal: 17)
Sekarang, masihkah kita enggan untuk benar-benar ‘membaca’? Tak hanya membaca ayat-ayat qauliyah yang termaktub dalam al-Qur’an, namun juga menguak tabir ayat-ayat kauniyah yang terbentang luas di semesta raya ini. Yang masih menyisakan berjuta misteri. Dari situ, diharapkan kita tak hanya menjadi ‘abid (ahli ibadah) penghuni masjid. Namun juga menjadi andalan dalam hal rancang konstruksi gedung, terdepan dalam dunia kedokteran dan ahli hacking. Konrad Adenauer bilang, “Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tetapi tidak semua orang punya cakrawala yang sama”. Jadi, kalau toh nantinya kita masih gaptek, salahkan diri sendiri saja!
Dan pula, masih ingat bahwa dalam QS. Ar-Rahman: 33 tersebut “… kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. Nah, apakah kekuatan (dalam bahsa Arab, sulthan) itu? Mungkin sekali kekuatan itu adalah ilmu pengetahuan/ sains. Ilmu biasanya didalilkan orang ke dalam tiga ungkapan: ilmu itu mengetahui, ilmu itu meramalkan dan ilmu itu berkuasa. Apakah kekuatan itu dapat juga disebut kekuasaan? Kalau benar, niscaya apa yang disebut sulthan dalam ayat ini adalah sains dan teknologi. Sebab itu marilah kita mencoba menjawab al-Qur’an ini dengan jalan sains dan teknologi. Anda berani?!
Sains yang Syar’i
Seperti itulah, antara agama (keimanan dan ketaqwaan) dengan temuan sains dan teknologi amat terkait. Membaca dan meneliti alam yang tidak diiringi niat semata-mata mencari ridlo Allah SWT dan melaksanakan syari’atnya, hanya akan membuahkan keburukan. Bisa kita lihat, negara-negara yang maju dalam sains dan teknologinya malah dihadapkan pada penyakit jiwa yang mengerikan. Angka kriminalitas di negara-negara tersebut selalu mengalami kenaikan. Bagaimana tidak, lha wong portal-portal porno terakses bebas, televisi yang penuh maksiat seakan menjadi ‘pemuka agama’ baru, film kekerasan merasuki jiwa anak-anak, dan belum lagi lahirnya generasi teler hasil penyalahgunaan narkoba. Belum lagi penampakan hedonisme (rumah wah, mobil mewah, HP wow, …) yang mengarah pada kesenjangan sosial, sungguh menjadi pemandangan yang mengharukan.
Kemajuan sains dan teknologi oleh sebagian orang memang hanya dijadikan sebagai alat untuk melampiaskan hawa nafsu. Meski, memang, pada dasarnya manusia berupaya untuk memenuhinya. Kecenderungan tersebut sebenarnya positif, jika tetap terkendali. Ketika sikap itu tampil liar, maka yang timbul kemudian adalah ketidakpuasan, gelisah, tamak dan berkeluh kesah.
Dalam kondisi seperti itu, manusia lantas tampil sebagai Homo Homini Lupus. Yang satu menjadi serigala bagi yang lain. Semua itu terjadi bukan karena daya intelektual manusia tumpul. Tapi karena mereka tidak mempergunakan akalnya di jalan yang diridhoi Allah. Bukan pula karena kegagalannya membaca kenyataan hidup yang berkembang dalam kehidupan msyarakat. Tapi karena mereka tidak mempergunakan mata untuk mamandang, dan berusaha menutup mata dari kenyataan yang ada. Bukan karena tak mampu mendengar jeritan orang-orang teraniaya akibat hawa nafsu. Namun mereka pura-pura tak mendengarnya.
Maka sekali lagi, jangan heran bila dulu karena urusan politik dalam negeri, Pemerintah Irak tega memusnahkan Suku Kurdi dengan memanfaatkan gas beracun. Yang terbaru, saat ini Amerika Serikat (AS) melalui IAEA ngotot menolak pengayaan uranium sebagai bahan nuklir di Iran dan Korea Utara, walaupun jelas-jelas untuk tujuan damai. Hal itu tak lain karena AS khawatir posisinya sebagai satu-satunya negara superpower terancam. Lain lagi soal tragedi kemanusiaan di Palestina. Orang-orang Israel yang intelek dan berperadaban canggih, punya hobi menebar teror yang mengabaikan penghargaan terhadap Hak-hak Asasi Manusia. Dengan dalih perebutan kembali wilayah zion.
Di dalam negeri, kasus Freeport contohnya. Eksploitasi berlebih terhadap tambang emas Papua ternyata tak memperhatikan keseimbangan alam. Terbukti, ditemukan pencemaran di Teluk Buyat dan muara Laut Arafuru yang mengancam kesehatan warga. Limbah tailing sisa pengolahan emas yang mengandung arsenic, cadmium, mercury, lead, nickel dan sianida tentu membahayakan bila sampai hinggap dalam tubuh manusia. Belum lagi proses penambangan yang menyisakan lubang menganga berdiameter puluhan kilometer. Ekosistem rusak dan tak mungkin lagi diperbarui. Ah, sudahlah!
Jika situasi seperti ini terus terjadi, terbuktilah apa yang dikhawatirkan oleh malaikat. Yaitu tampilnya orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka banyak menumpahkan darah sesamanya. Segala cara ia halalkan demi memuaskan nafsu, yang dengan sengaja ia pertuhankan. Tak perduli harus sikut kanan, sikut kiri.
Kalau sudah begini, kita mestinya menyadari pentingnya aspek-aspek normatif dalam pengembangan sains dan teknologi. Agama selain berfungsi sebagai ‘motor’ hendaknya juga berfungsi sebagai ‘monitor’ terhadap perubahan yang terjadi akibat pembangunan. Jangan sampai lahir manusia-manusia intelek yang tak berperikemanusiaan, bahkan tak ‘berperikehewanan’ (maksudnya, merusak ekosistem alam juga)
Akhirnya pada abad 21 ini banyak ilmuwan harus mempertanyakan kembali pernyataan ‘science is the most powerful’ (sains adalah sangat berkuasa). Sebab, implikasi sains ternyata ternyata telah menimbulkan dan gejala yang cenderung menjadi bumerang bagi peradaban manusia. Kegelisahan tersebut terwakili lewat ungkapan Alexis Carel, ‘man the unknown’ (manusia tanpa identitas). Manusia modern di abad ini, ia sebut, tengah mencari kembali eksistensinya yang hilang.
Semua ini terjadi akibat kelalaian kaum sekuler yang tak menyadari bahwa laju pembangunan bidang material akan berdampak pada perubahan norma dan nilai-nilai ilahi yang hidup di masyarakat. Ini pula yang harus dibayar mahal oleh masyarakat yang sedang membangun, jika kemajuan dari segi materi tak dibarengi kemajuan spiritual yang bercermin pada aturan Allah. Inilah akibat dari realisasi prinsip, “Pilihlah ilmu bila ingin maju, atau berpegang terus pada agama kalau mau mundur”. Benar-benar prinsip yang gegabah dan menyesatkan. Dikotomi yang nyata!
Hal di ataslah yang oleh Ary Ginanjar Agustian, penulis buku best seller ESQ, disebut sebagai split personality. Keunggulan IQ (kecerdasan otak) dan EQ (kematangan pribadi) saja sesungguhnya tak cukup dalam menggapai kesuksesan di atas rata-rata. Sebut saja Bill Gates, orang terkaya di dunia, sang pemilik Royalti Microsoft. Sepintas lalu kita akan dibuat takjub tentang sebuah keunggulan kekuatan IQ dan EQ manusia. Namun ketakjuban itu tak terlalu lama. Kita kembali tersentak oleh hasil akhir dari teori IQ dan EQ. Bukankah semuanya hanya berorientasi kebendaan dan hubungan antarmanusia semata? Tiadakah teori lain, dengan cara pandang berbeda yang dapat melahirkan sebuah muara selain hanya materi dan hubungan antarmanusia? Bukankah hanya amengejar kebendaan, berarti hanya mencakup satu tujuan saja, yaitu amaliyah duniawi yang manifes, aktual dan fana (temporary)?
Ya… akhirnya dilengkapilah upaya menggali sains dan teknologi tersebut dengan dimensi spiritual (SQ), lalu lahirlah Emosiaonal Spiritual Quotient (ESQ) modelÒ yang bersumber dari Rukun Iman dan Rukun Islam. Konsep ini mempertemukan golongan duniawi dan ukhrowi di tengah. Keberhasilan sejati baik di dunia maupun di akhirat, serta kebahagiaan sejati, baik lahiriah maupun batiniah. Inilah manusia unggul hasil ‘celupan Allah’. Bukankah Ia berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (TQS. al-Qashash: 77).
Epilog
Demikianlah, sukses yang dicapai sains dan teknologi yang mengenyampingkan nilai-nilai ruhiyah (iman dan taqwa) hanya akan menghantarkan manusia ke jurang kehancuran. Nilai-nilai tersebut akan membuahkan kearifan dalam pengembangan sains dan teknologi. Tak menyalahgunakannya, apalagi berakibat adanya kerusakan.
Tulisan ini telah berupaya untuk menterjemahkan pilar-pilar dan prinsip dasar Islam, serta membawa Islam ke kantor, sawah, bank dan pasar modal… Semua perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi jangan ‘asal’!
Oya, satu hal lagi, apabila dalam tulisan ini terdapat ulasan tentang al-Qur’an, bukan berarti eksklusifisme aliran atau agama. Tetapi sebuah keinginan untuk menyampaikan kebenaran. Dengan meminjam gaya tutur Emha Ainun Najib saya berpesan, “Kalau di dalam tulisan ini ada al-Qur’an, itu bukan untuk golongan. Tapi untuk seluruh umat manusia. Bukan al-Qur’an untuk Islam, bukan dunia untuk Islam. Tapi al-Qur’an dan Islam untuk dunia. Islam merindukan perdamaian dan kebahagiaan sejati, bersama dengan yang lain”. Begitulah, Islam memang bisa manunggal (bersatu/ sejalan) dengan sains dan teknologi, Ya… Manunggaling Sains Ukhrowi. Dia agama ritual sekaligus ‘the way of life’ yang sangat bisa diterima oleh akal (logis)… Mewujud dalam pribadi hingga ia bisa tampil sebagai khoiru ummah (umat terbaik).
Daftar Rujukan
Ary Ginanjar Agustian. Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Agra, 2005
LPPSDM BKPRMI Jatim. Qur’an Pedoman Hidup. Surabaya: BKPRMI Jatim, 2000
Luqman Haqani. Nestapa Remaja Modern. Bandung: Pustaka Ulumuddin, 2004
M. Ali Hasan. Masail Fiqhiyah al-Haditsah. Jakarta: Srigunting, 1995
Sabili. KH. Athian Ali M. Da’I: Sains Yang Membangun. Jakarta: No. 22 Th. XII 19 Mei 2005/ 10 Rabiul Awal 1426